Profil Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil Sulawesi Tengah
  • PRL DKP
  • 15 Desember 2022
  • 4526 x

Secara geografis Provinsi Sulawesi Tengah terletak antara 2° 22' Lintang Utara dan 3° 48' Lintang Selatan serta 119° 22' dan 124° 22' Bujur Timur. Provinsi Sulawesi Tengah merupakan provinsi kepulauan dengan luas perairan sekitar 77.295,90 km2, panjang garis pantai sekitar 7.010,60 km (BIG, 2021) dan memiliki 1.572 pulau (Gazetir 2021, & Kemdagri, 2022) (Lampiran 1) dimana terdapat 3 pulau-pulau kecil terluar yakni Pulau Dolongan, Pulau Lingayan, dan Pulau Salando. Luas wilayah daratan berkisar 61.237,50 km2 atau 36,47 % dari luas Pulau Sulawesi. Provinsi Sulawesii Tengah terbagi 13 kabupaten/kota yaitu Kabupaten Donggala, Poso, Tolitoli, Banggai, Buol, Morowali, Parigi Moutong, Banggai Kepulauan, Banggai laut, Tojo Una-Una, Sigi, Morowali Utara dan Kota Palu, yang terdiri atas 175 kecamatan, 175 kelurahan dan 1.842 desa denganjmumlah penduduk pada tahun 2021 sebanyak 3.034.513 jiwa (Kemdagri, 2022). Kabupaten Sigi merupakan satu-satunya kabupaten bukan pesisir dari 12 kabupaten/kota yang ada.

Batas-batas wilayah Provinsi Sulawesi Tengah adalah sebagai berikut:

a. Sebelah Utara : Laut Sulawesi

b. Sebelah Timur : Provinsi Maluku dan Provinsi Gorontalo

c. Sebelah Selatan : Provinsi Sulawesi Barat

d. Sebelah Barat : Selat Makassar


Kawasan konservasi di wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil Provinsi Sulawesi Tengah tersebar di beberapa lokasi seperti Taman Nasional Togean (362.605 Ha) yang terletak di Kabupaten Tojo Una-Una, Suaka Marga Satwa Pulau Dolagon (4.62,5 Ha), Taman Wisata Alam Laut (TWAL) Pulau Tokobae (1.000 Ha), TWAL Teluk Tomoni (7.200 Ha), Suaka Marga Satwa Pulau Pasoso (5.000 Ha), Suaka Marga Satwa Pulau Tiga (42.000 Ha), TWAL Tosale (5.000 Ha), TWAL Pulau Peleng (17.462 Ha), TWAL Kepualauan Sago (153.850 Ha) (Kementerian Kehutanan, 2014). Selain itu, kawasan konservasi perairan yang telah dicadangkan/diinisiasi oleh pemerintah kabupaten di Sulawesi Tengah berupa KKPD Tolitoli (65.107,77 Ha), KKPD Parigi Mountong (4.652,6 Ha), KKPD Pagimana (9.543,69 Ha), KKPD Banggai (18.207.57 Ha).


Ekosistem Terumbu Karang

Terumbu karang di Propinsi Sulawesi Tengah mempunyai luas 186.766,71 Ha dengan kondisi karang berkategori “sedang”, dengan rincian kondisi rusak seluas 3.918,32 Ha (2.10%), kondisi sedang seluas 144.070,26 Ha (77.14%), kondisi baik seluas 36.505,63 Ha (19.55%) dan kondisi sangat baik seluas 2.272,08 Ha (1.22%). Kawasan yang memiliki kondisi buruk sampai kondisi sedang merata di seluruh kawasan eksosistem terumbu karang di Propinsi Sulawesi Tengah, sedangkan yang tergolong berkondisi baik hanya terdapat di Pulau Togean. Potensi ekosistem terumbu karang Sulawesi Tengah cukup baik untuk menunjang kegiatan perikanan, pariwisata dan lainnya, namun pengrusakan akibat kegiatan akibat destructive fishing baik pemboman ikan maupun penggunaan bius (potassium cyanide) dalam menangkap ikan karang menjadi penyebab utama kerusakan terumbu karang selain akibat penambangan karang, tingkat kekeruhan dan sedimentasi yang relatif tinggi, pariwisata yang merusak maupun akibat alam seperti bleaching maupun serangan predator.


Gambar. Peta Sebaran dan Kondisi Ekosistem Terumbu Karang Provinsi Sulawesi Tengah


Ekosistem Padang Lamun

Ekosistem padang lamun Sulawesi Tengah terdiri atas 10 jenis dari 13 jenis yang ada di Indonesia. Jenis lamun yang distribusi luas dan sering ditemukan adalah jenis-jenis Enhalus acoroides, Thalassia hemprichii, Cymodocea rotundata, Syringodium isoetifolium dan Halophila minor. Luas ekosistem padang lamun di Sulawesi Tengah sekitar 27.406,48 Ha dengan persentase penutupan pada setiap kawasan yang sangat bervariasi, baik kategori miskin seluas 16.220,80 Ha (59.19%), kurang kaya/kurang sehat seluas 9.395,48 Ha (34.28%), maupun kategori kaya/sehat seluas 1.790,11 Ha (6.53%). Penyebab kategori padang lamun yang miskin di perairan Sulawesi Tengah akibat sedimentasi yang tinggi dan pencemaran. Sedimentasi mampu menutupi tumbuhan lamun sehingga tidak bertumbuh secara optimal. Sedimentasi banyak dipicu oleh kerusakan wilayah pesisir akibat alih fungsi lahan serta kerusakan terumbu karang sehingga mengurangi peredaman gelombang dan arus laut. Sebaran ekosistem padang lamun diwilayah Sulawesi Tengah memiliki karakteristik dimana hambaran padang lamun tidak tersebar meluas akibat topografi laut yang cenderung dalam diwilayah pantai.


Gambar. Peta Sebaran dan Kondisi Ekosistem Padang Lamun Provinsi Sulawesi Tengah


Ekosistem Mangrove

Luas hutan mangrove Provinsi Sulawesi Tengah sekitar seluas 33.876,29 Ha dengan persentase penutupan pada setiap kawasan yang sangat bervariasi, baik kategori Sangat Rapat seluas 1.044,98 Ha (3.08%), kategori Rapat seluas 5.233,19 Ha (15.45%), kategori Sedang seluas 15.765,48 Ha (46.54%), kategori Jarang seluas 10.007,71 Ha (29.54%) maupun kategori Sangat Jarang seluas 1.824,93 Ha (5.39%) serta jenis mangrove yang didapatkan di Provinsi Sulawesi Tengah adalah Avicenia alba, A. corniculatum, A. lanata, A. marina, A. officinalis, A. rumphiana, Avicennia sp., Aegiceras corniculatum, A. floridinum, Aegiceras sp, Bruguiera cylindrica, B. gymnorrhiza, Ceriops tagal, Exoecaria agallocha, Hibiscus tiliaceus, Nypa fruticans, Rhizophora apiculata, R. mucronata, R. stylosa, S. ovate, Schyphiphora sp., Sonneratia alba, Sonneratia sp., Xylocarpus granatum, dan Xylocarpus sp.

Kondisi mangrove yang bagus terdapat dibeberapa wilayah pesisir seperti di Kabupaten Tolitoli, Buol, Morowali, Poso, dan Parigi Moutong, terutama di daerah pesisir yang bersubstrat lumpur bisa dipertimbangkan untuk dimanfaatkan sebagai lahan budidaya kepiting bakau dengan menggunakan metode pagar bambu. Metode ini sangat sederhana dengan pemeliharaan yang relatif mudah.


Gambar. Peta Sebaran dan Kondisi Ekosistem Mangrove Provinsi Sulawesi Tengah